Mitos Mitos Gunung Lawu

Jelajahi gunung lawu disini dan nikmati suasana alam yang akan menguncang saat anda menginjakan kaki di sana

Legenda Telaga Sarangan

kunjungi dan rasakan kesejukan hawa dan suasana damai di sarangan.

Seruan Tuhan maha Agung

Cermati dan pahami makna adzan dan ketahui fakta faktanya.

Pilih Zodiak mu

Ketahui zodiak mu dan ketahui faktanya.

Hack sendiri tubuhmu

jika belum tahu maka bacalah artikel tentang meng-hack tubuh sendiri maka bacalah ini.

Tampilkan postingan dengan label sejarah magetan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah magetan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Asal Usul Dusun Ngerong





hai sobat blogger
kali ini saya akan mmosting tentang wilayah saya yaitu dusun Ngerong
dusun ini terletak di desa Dadi ,kec.plaosan ,kab.magetan dusun ini termasuk stategis dalam segi apapun
oh iya ... saya tinggal di dusun Ngerong ini sejak saya masih kecil , saya tinggal di RT.14,RW.07 jika
ingin mengunjungi saya     monggo
dusun Ngerong ini lumayan dekat dengan tempat-tempat wisata ternama di kawasan kami misalnya :
telaga wahyu ± 1 Km
telaga sarangan ± 4 km
Air terjun pundak kiwo ± 1 Km
oh iya kita tadi akan membahas asal ussul ya....emm
kata orang orang tua yang dulu kata ngerong diambil "RONG" yaitu selaluu menggerus atau selalu berlubang
dulunya kata orang orang tua ada lubang yang berdiameter ± 1 meter itu terus membesar ± 2 meter dan suatu  ketika warga warga cemas dan mulai bergerak utuk menutup lubang dengan batu,pasir,sampah namun tak membuahkan hasil .material yang dimasukan kedalam lubang seketika langsung menghilang entah kemana dan tidak ada suara  benda yang menyentuh dasar lubang terebut . hal itu membuahkan anggapan anggapan yaitu benda tersebut masuk  ke dalam air yang mengalir di bawah atau benda tersebut jatuh tanpa ada dasarnya. lubang itu sempat disebut lubang ssetan karena kadang kadang dijumpai Makhluk Gaib dan suara suara yang bukan dari manusia yang menakutkan.
namun lubang itu telah ditutup oleh batu yang melebihi diameterlubang tersebut
sampai saat ini pun saya juga belum tau dimana keberadaan lubang tersebut
itulah mengapa dusun kami dinamakan Ngerong
kurang lebih asal  usulnya seperti itu namun jika ada referensi yang lain maka hal itu juga tidaklah
salah sepenuhnya
yaa...begitulah namun kepercayaan hanya ada pada pembaca sekalian Belived or Not terserah anda
yang penting percaya No 1 itu hanya pada Allah SWT.

sekian Post saya semoga bermanfaat ^_^  

Minggu, 14 April 2013

Sejarah Telaga Sarangan

Asal Usul Telaga Sarangan yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya
saya ingin semua orang tahu kalau magetan mempunyai tempat wisata yang lumayan bagus


















Indah, sejuk dan penuh cerita menarik, demikianlah kata yang tepat untuk menggambarkan tempat wisata keluarga Telaga Sarangan yang terletak di kaki Gunung Lawu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini.

Danau atau yang biasa disebut telaga ini memiliki luas lebih kurang 30 hektar dan memiliki kedalaman sekitar 30 meter dan hanya berjarak 20 kilometer dari pusat kota Magetan, sehingga gampang ditempuh.
Berdasarkan informasi yang didapat dari petugas setempat, ditambah info dari tokoh dan wan warga setempat, nama lain dari Telaga Sarangan adalah Telaga Pasir. Hal ini karena berkaitan dengan cerita asal mula Telaga Sarangan.
Kyai Pasir dan Nyai Pasir adalah pasangan suami isteri yang hidup di hutan Gunung Lawu. Mereka tinggal di sebuah rumah (pondok) di lereng hutan Gunung Lawu sebelah Timur. Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman serta tidak takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan sebagainya. Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan tersebut sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.
Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bertanam sesuatu di ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena ladang yang akan ditanami banyak pohon-pohon besar, Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu. Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena mengetahui sebutir telur  terletak di bawah salah sebuah pohon yang hendak ditebangnya. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur. Tanpa berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membawa telur itu lalu diberikan kepada isterinya.
Kyai Pasir menceritakan ke Nyai Pasir awal pertamanya menemukan telur itu, sampai dia bawa pulang. Akhirnya kedua suami isteri itu sepakat, telur temuan itu direbus. Setelah masak, separo telur  rebus itu diberikan  Nyai Pasir  kepada suaminya, lalu telur itupun segera dimakan oleh Kyai Pasir dengan lahapnya. Setelah makan, kemudian Kyai Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaan menebang pohon dan bertanam.
Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. Namun setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali. Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi sekujur tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebah ke tanah. Kyai Pasir dalam  kebingungan sebab sekujur badannya kaku serta sakit bukan kepalang, dalam keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah, kesana kemari dengan dahsyatnya, Gaib menimpa Kyai Pasir, tiba-tiba badanya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari tanpa henti-hentinya.
Alkisah, Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba mengalami nasib sama sebagaimana yang dialami suaminya Kyai Pasir. Sekujur badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi kebingungan, lari kesana kemari, tak karuan dan tidak tau apa yang harus dilakukan.
Karena derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijumpai, bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali juga menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan rebahlah ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya. Begitu ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan. Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula berguling-guling, namun tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana. Dalam waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. Telaga inilah yang  oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga ini terwujud disebabkan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir.

Mitos Miots Gunung Lawu

saya akan membahas sedikit tentang gunung lawu..
emm saya juga kurang begitu paham tentang gunung lawu dan belum sempat menjelajahi nya karena baru 1 kali saya mendakinya

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan sejuta misteri dengan tiga puncak utamanya yaitu : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton solo dan yogjakarta , semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.


Siapapun yang hendak pergi ke puncak Lawu bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.suatu contoh peraturan ialah dilarang berbicara kesel (lelah)ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak.selagi tidak melanggar peraturan tidak akan terjadi suatu kejadian yang naas.

Namun,Gunung Lawu tidak hanya sebatas angker belaka,tetapi Gunung lawu ditunggu seekor burung misterius.Jalak Lawu namanya.
Mbah Prapto Lawu Gendheng (pemilik warung di dekat sendang Drajat), bercerita bahwa Jalak Gading yang ada di Gunung Lawu ini adalah Teman seperjalanan untuk semua pendaki gunung Lawu, asal jangan diganggu. Kalau Jalak Gading ini diganggu, dilempari dll Jalak Gading ini akan membuat sesat para Pendaki Gunung Lawu, entah bagaimana caranya yang jelas jangan mengganggu Burung Jalak Gading kalau tidak ingin tersesat malahan Jalak Gading ini akan mengantar para pendaki sampai ke Puncak Gunung Lawu.
Gunung Lawu, merupakan habitat berbagai macam flora dan fauna yang unik, endemik (anggrek dan jalak lawu) dan ada pula yang terancam punah, seperti Harimau dan Elang Jawa. Selayaknya kita manusia bisa hidup berdampingan dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar, terutama para pendaki gunung yang sering bergumul langsung dengan alam bebas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.