Mitos Mitos Gunung Lawu

Jelajahi gunung lawu disini dan nikmati suasana alam yang akan menguncang saat anda menginjakan kaki di sana

Legenda Telaga Sarangan

kunjungi dan rasakan kesejukan hawa dan suasana damai di sarangan.

Seruan Tuhan maha Agung

Cermati dan pahami makna adzan dan ketahui fakta faktanya.

Pilih Zodiak mu

Ketahui zodiak mu dan ketahui faktanya.

Hack sendiri tubuhmu

jika belum tahu maka bacalah artikel tentang meng-hack tubuh sendiri maka bacalah ini.

Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Nama Asli Indonesia terancam Punah

Ngatiyem, Dalimin, Suparno, Tukiyem, Katimin, Wagiman, Suripto, Suyatni, Sitinah, Masduki, Tukijo, Ratnasih, Harjo, Slamet, Paijo, Paimin, Tukijan, Mas'ud,Sarimin,Tukiran,Tuharmin ,Karno,Sujono,Painem dan lain-lain

Nama-nama jawa tradisional ini terancam punah akibat penurunan gengsi.


Bagi sebagian orang memiliki nama lokal kedaerahan seperti di atas ada sesuatu yang memalukan pada zaman sekarang ini. Era globalisasi yang serba canggih ini menggeser trend penamaan anak pada nama-nama yang dianggap lebih modern dan berbau luar negeri.

Nama-nama seperti rahul, fran, jessi, reynaldi, mike, michael, jason, ruben, angelina, vijay, james, ricky, billy, greg, john, stefani, julia, ronaldo, peruzzi, mancini bagi sebagian orang adalah nama-nama yang keren dan oke punya. Orang yang memiliki nama Elizabeth mungkin akan dianggap lebih cantik daripada Siti Suparwati walaupun kenyataannya belum tentu demikian.

Banyak orang pun kini kian mengejek nama-nama tradisional dengan sebutan katro, ndeso, kuno, miskin, dan lain-lain. Sepertinya orang yang dinamai nama jawa tradisional akan jadi orang susah, miskin, berwajah jelek, dan sebagainya.

Seharusnya kita bangga pada budaya nasional kita termasuk pada nama. Nama tidak mencerminkan kualitas seseorang karena seseorang yang namanya Sumanto bisa saja menjadi seorang profesor dan seorang yang bernama Frans bisa saja berprofesi sebagai buruh angkut karung beras di pasar tradisional. Bagi yang memiliki nama yang bagi bayak orang nama kita jelek dan katro maka bangkitlah dan tunjukan pada mereka bahwa nama yang dianggap jelek orangnya bisa lebih keren, maju dan profesional daripada yang punya nama yang dianggap trendy.

Misteri kontroversi Monas


Monumen Nasional (Monas) berada dipusat kota Jakarta yaitu di Lapangan Monas Jakarta Pusat, atau ke arah selatan dari Istana Negara di Jakarta. Tugu Peringatan Nasional yang satu ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dibangun pada tahun 1959 dan selesai pada tahun 1960. Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter (433 kaki) yang dibangun di areal seluas 80 hektar.
R.M. Soedarsono

R.M. Soedarsono

Tugu ini diarsiteki oleh R.M. Soedarsono dan Friedrich Silaban (arsitek Mesjid Istiqlal), dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Monas mengalami lima kali pergantian nama, yang pertama yaitu Lapangan Gambir karena dulu merupakan daerah Pasar Gambir.
Lalu ganti nama lagi menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.
Disekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.
Friedrich Silaban (1912-1984) Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal dan pembangunan Monas... Friedrich Silaban, seorang penganut Kristen Protestan yang taat kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, wafat dalam usia 72 tahun pada hari Senin, 14 Mei 1984 RSPAD Gatot Subroto Jakarta, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.
Pada hari-hari libur, seperti hari Minggu atau hari libur sekolah, banyak masyarakat yang berkunjung kesini.
Dalam masa kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, malah semakin banyak orang datang kesini.
Monas adalah Indonesia, Indonesia adalah negara bermacam kultur, ras dan agama – Negara Kesatuan, dan monas juga melambangkan “Bhinneka Tunggal Ika” atau  “Unity in Diversity“.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi.
Selain itu di Kompleks Taman Monas juga terdapat diorama tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Tempat itu bisa dilihat di bawah tanah dekat monumen ini, tepatnya dekat dengan patung Pangeran Diponegoro. Para pengunjung dapat naik hingga keatas dengan menggunakan elevator. Hingga saat ini sejak pagi hari apalagi di tiap akhir Minggu, antrian naik ke tugu Monas kian ramai. Lidah api atau obor diatas tugu monas ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaan. Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 38 kg. Dan  28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam , salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.
Teuku Markam pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia bahkan se- Asia Tenggara.
Teuku Markam turunan Uleebalang. Lahir tahun 1925 memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam turunan Uleebalang. Lahir tahun 1925 menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan bentrokan antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis. Dan masih banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas di catat dalam sejarah Indonesia.
Sosok Wanita di Api Obor Monas
“Apa yang ada diatas tugu Monas? Gambar apa yang terlihat dari lidah api di atas monas itu?”
Relief sejarah Indonesia di Taman Monas, Jakarta. Terlihat sosok Mahapatih Gadjah Mada berada dibarisan terdepan. Gadjah Mada memperingatkan kerajaan diluar kepulauan Nusantara agar tidak menyerang wilayah Nusantara setelah mereka berikrar untuk bersatu menjadi wilayah kepulauan terbesar di dunia.
Sosok perempuan sedang duduk simpuh dengan gerai rambutnya yang panjang. Rambut atasnya disimpul seperti sanggul kecil. Duduk menghadap langsung ke Istana Negara.”
Patung lidah api terbalut emas itu menggambarkan seorang perempuan. Ternyata bukan gambar abstrak lidah api semata.
Terlihat dari sisi sebelah kiri Monas di Jalan Medan Merdeka Barat sebelah utara, dekat dengan Istana Presiden.
Patung bersosok perempuan itu sengaja dibuat dengan sebaik-baiknya agar orang yang melihatnya tidak mengetahuinya secara langsung, begitu hebatnya Bung Karno sebagai penggagas dan juga sang arsitek yang membuatnya.
Jika peradaban manusia mungkin bisa punah, maka paling tidak Indonesia sudah punya peninggalan berupa warisan para pemahat ulung di zaman moderen, pembuatan tahun 2000-an ini. Salah satunya ialah patung penari cantik di Monas, Dewi Pertiwi. Ukiran dan pahatannya sangat halus dan detail. (sources: wikipedia)
Presiden Soekarno juga sudah mengetahui sosok patung “tak terlihat” ini. Sosok perempuan itu sangat akurat mengarah ke istana Presiden.
Jadi, disaat kita berada di halaman Istana Presiden, patung tersebut paling mudah untuk dikenali.
Sedangkan dari sisi lainnya akan susah untuk dikenali, apalagi jika anda ada di daerah Medan Merdeka Selatan, takkan terlihat – karena Anda hanya melihat punggungnya.
Apa tujuan pembuatan lidah api sebagai simbol semangat yang membara dengan sosok perempuan tersebut? Tiada orang yang tahu persis.
Beberapa orang hanya beranggapan bahwa sosok itu dibuat karena Presiden Soekarno sangat menghormati perempuan.
Atau mungkin juga sang arsitek sengaja membuatnya agar setiap Presiden Indonesia bisa melihat sang “Ratu” atau “Puteri” atau “Dewi” ini ke arah nyala obor diatas monas.
Perancang relief ini mungkin juga bermaksud agar sang wanita layaknya menyemangati pekerjaan berat yang sedang diemban sang Presiden.
Agar presiden tetap terpacu, tidak melunturkan tekadnya, tak mudah menyerah dan semangatnya tetap menyala untuk memakmurkan rakyatnya dan membangun negeri yang besar ini.
Atau bisa jadi juga bermaksud agar setiap Presiden Indonesia merasa akan diawasi oleh sang sosok wanita itu sebagai layaknya Ibu kita, Ibu Negeri, “Ibu Pertiwi”.
Apapun alasannya tapi masalah misteri api obor ini masih merupakan suatu misteri.
Hingga kini, banyak kontroversi mengenai siapa sosok itu. Sosok perempuan misterius ini tidak mungkin dibuat “tanpa nama” alias asal berwujud saja.

Relief sosok wanita di Monas (Musium Nasional)
Apapun kontroversi dan konspirasi tentang masalah ini, namun yang jelas relief sosok perempuan yang terwujud di api obor bagian atas Monas yang berlapis emas tersebut bukanlah isapan jempol..!
Untuk bapak-bapak kita atau orang tua yang berusia 60 tahun keatas, sebagian besar juga pernah mendengar mitos ini.
Namun  jangan tak percaya, karena anda juga dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Jangan lupa jika sedang berada disekitar Istana Negara,  pandanglah ke arah monas pada relief kobaran api obornya, terlihat khan? ^_^

Wujud relief wanita pada obor api diatas Tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta. (courtesy: yudiweb)
Pandangan terbaik untuk melihat sosok wanita ini adalah jika anda berada dibagian utara tugu ini.

Antara Monas dan Istana Presiden, jika ditarik garis lurus maka akan menjadi garis pandangan terbaik untuk melihat sosok wanita ini, karena sosok wanita tersebut duduk simpuh dan menghadap langsung ke Istana Presiden.
Dan hebatnya, jika anda melihatnya secara jarak dekat – misal memakai teropong, relief sosok wanita tersebut justru menjadi semakin tidak jelas dan semakin tak terlihat bahkan lenyap. Hanya terlihat relief api obor?!
Relief tersebut tak terlihat karena sosok tersebut hanya dapat dilihat dari kejauhan, karena jika dari jarak dekat, yang terlihat hanyalah relief ukiran api obor yang berbentuk abstrak.
Sudut pengelihatan terbaik adalah jika anda berdiri segaris lurus antara tugu Monas dan Istana Presiden yang berada di jalan Merdeka Utara.
Begitu misteriusnya sosok wanita ini bahkan hingga konspirasinya sampai ke arah dunia mistis. Karena bisa jadi sosok itu adalah sosok relief dari Ratu Pantai Selatan, sang Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul….
Believe it or not?
Silahkan pergi ke Monas dan lihatlah dengan mata dan kepala anda sendiri. Terlihatkah oleh Anda, bahwa relief api obor tersebut seperti sosok patung seorang wanita sedang duduk simpuh diatas Monas…???
Are you believe it? Just prove it …

Minggu, 14 April 2013

Budaya Larung Sesaji di Sarangan


Tradisi Larung Tumpeng di Telaga Sarangan Magetan sudah ada bertahun tahun silam.adalah satu cara untuk melestarikan budaya Jawa bagi masyarakat Magetan.Tradisi yang dilakukan dalam nuansa ritual ini dilakukan demi keselamatan warga Kabupaten Magetan.
 Pemerintah setempat menggelar acara Labuh Sesaji Gono Bahu dengan melarungkan tumpeng hasil bumi di tengah telaga Pasir Sarangan. Larung Sesaji dengan melarungkan satu buah tumpeng setinggi 3 meter di ikuti 2 gunungan palawija yang berisikan hasil bumi asli warga Magetan meliputi padi (nasi), pala wija, kentang, wortel, jagung dan sayur – sayuran lainnya.
entah kapan Kegiatan Ritual ini dilakukan yang pasti akan mendatangkanWisatawan dari penjuru manapun untuk melihat Larung Tumpeng Sarangan.
acara Labuh sesaji tersebuh diadakan setiap tahunnya sekali pada bulan Jawa Ruwah dan bisa meningkatkan  penghasilan penduduk Sarangan
Sementara itu Sumantri Bupati Magetan  menjelaskan Pemkab Magetan mentargetkan pengunjung yang saat ini 500 ribu pertahun menjadi 3 juta wisatwan pertahun.

Pemerintah Kabupaten Magetan telah mengemas acara larung sesaji ini semenarik mungkin, dengan menggunakan busana adat yang dipadukan dengan batik asli Magetan Batik Pring Sedapur dan hiburan kesenian lainnya.

Acara Larung Sesaji Telaga Sarangan ini dipimpin langsung oleh Bupati Magetan Sumantri dan dihadiri oleh para pejabat daerah Kabupaten Magetan.
Tradisi Larung Tumpeng ini juga membuat arus lalu lintas di pinggir telaga macet akibat padatnya pengunjung dan pasti akan menimbulkan kecelakaan kecelakanan yang tidak diinginkan
.larung Tumpeng sarangan jaman dulu yang disaksikan oleh wisatawan yang begitu padat.dulu Mobil sangat jarang,tetapi pengunjung disana begitu padat.apalagi sekarang bisa bisa sarangan menjadi Padat Total

Sejarah Telaga Sarangan

Asal Usul Telaga Sarangan yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya
saya ingin semua orang tahu kalau magetan mempunyai tempat wisata yang lumayan bagus


















Indah, sejuk dan penuh cerita menarik, demikianlah kata yang tepat untuk menggambarkan tempat wisata keluarga Telaga Sarangan yang terletak di kaki Gunung Lawu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini.

Danau atau yang biasa disebut telaga ini memiliki luas lebih kurang 30 hektar dan memiliki kedalaman sekitar 30 meter dan hanya berjarak 20 kilometer dari pusat kota Magetan, sehingga gampang ditempuh.
Berdasarkan informasi yang didapat dari petugas setempat, ditambah info dari tokoh dan wan warga setempat, nama lain dari Telaga Sarangan adalah Telaga Pasir. Hal ini karena berkaitan dengan cerita asal mula Telaga Sarangan.
Kyai Pasir dan Nyai Pasir adalah pasangan suami isteri yang hidup di hutan Gunung Lawu. Mereka tinggal di sebuah rumah (pondok) di lereng hutan Gunung Lawu sebelah Timur. Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman serta tidak takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan sebagainya. Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan tersebut sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.
Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bertanam sesuatu di ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena ladang yang akan ditanami banyak pohon-pohon besar, Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu. Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena mengetahui sebutir telur  terletak di bawah salah sebuah pohon yang hendak ditebangnya. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur. Tanpa berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membawa telur itu lalu diberikan kepada isterinya.
Kyai Pasir menceritakan ke Nyai Pasir awal pertamanya menemukan telur itu, sampai dia bawa pulang. Akhirnya kedua suami isteri itu sepakat, telur temuan itu direbus. Setelah masak, separo telur  rebus itu diberikan  Nyai Pasir  kepada suaminya, lalu telur itupun segera dimakan oleh Kyai Pasir dengan lahapnya. Setelah makan, kemudian Kyai Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaan menebang pohon dan bertanam.
Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. Namun setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali. Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi sekujur tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebah ke tanah. Kyai Pasir dalam  kebingungan sebab sekujur badannya kaku serta sakit bukan kepalang, dalam keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah, kesana kemari dengan dahsyatnya, Gaib menimpa Kyai Pasir, tiba-tiba badanya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari tanpa henti-hentinya.
Alkisah, Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba mengalami nasib sama sebagaimana yang dialami suaminya Kyai Pasir. Sekujur badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi kebingungan, lari kesana kemari, tak karuan dan tidak tau apa yang harus dilakukan.
Karena derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijumpai, bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali juga menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan rebahlah ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya. Begitu ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan. Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula berguling-guling, namun tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana. Dalam waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. Telaga inilah yang  oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga ini terwujud disebabkan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir.

Mitos Miots Gunung Lawu

saya akan membahas sedikit tentang gunung lawu..
emm saya juga kurang begitu paham tentang gunung lawu dan belum sempat menjelajahi nya karena baru 1 kali saya mendakinya

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan sejuta misteri dengan tiga puncak utamanya yaitu : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton solo dan yogjakarta , semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.


Siapapun yang hendak pergi ke puncak Lawu bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.suatu contoh peraturan ialah dilarang berbicara kesel (lelah)ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak.selagi tidak melanggar peraturan tidak akan terjadi suatu kejadian yang naas.

Namun,Gunung Lawu tidak hanya sebatas angker belaka,tetapi Gunung lawu ditunggu seekor burung misterius.Jalak Lawu namanya.
Mbah Prapto Lawu Gendheng (pemilik warung di dekat sendang Drajat), bercerita bahwa Jalak Gading yang ada di Gunung Lawu ini adalah Teman seperjalanan untuk semua pendaki gunung Lawu, asal jangan diganggu. Kalau Jalak Gading ini diganggu, dilempari dll Jalak Gading ini akan membuat sesat para Pendaki Gunung Lawu, entah bagaimana caranya yang jelas jangan mengganggu Burung Jalak Gading kalau tidak ingin tersesat malahan Jalak Gading ini akan mengantar para pendaki sampai ke Puncak Gunung Lawu.
Gunung Lawu, merupakan habitat berbagai macam flora dan fauna yang unik, endemik (anggrek dan jalak lawu) dan ada pula yang terancam punah, seperti Harimau dan Elang Jawa. Selayaknya kita manusia bisa hidup berdampingan dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar, terutama para pendaki gunung yang sering bergumul langsung dengan alam bebas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.